
Mencari penyelenggara in house training?
Kami terbuka untuk mendiskusikan penyelenggaraan in house training, mulai dari materi, instruktur, anggaran, hingga teknis pelaksanaan.
Kami didukung oleh lebih dari 25 perusahaan penyelenggara pelatihan yang kompeten. Tim kami akan memilih penyelenggara pelatihan yang paling sesuai dengan kebutuhan Anda.
Dapatkan penawaran terbaik dari kami!
Apa Itu In House Training?
In House Training adalah program pelatihan yang diselenggarakan secara khusus oleh perusahaan untuk para karyawannya. Berbeda dengan pelatihan publik, pelaksanaan in house training dapat dikustomisasi agar selaras dengan kebutuhan spesifik perusahaan Anda.
Apa saja yang bisa dikustomisasi?
Perusahaan bisa leluasa menentukan materi yang ingin disampaikan, instruktur, metode pelaksanaan, jumlah peserta, anggaran, hingga waktu dan tempat pelatihan.
Dalam beberapa hal, pelatihan in house bisa lebih ekonomis dibanding mengirim karyawan ke tempat pelatihan eksternal.
Kiat Menyiapkan In House Training
Sebelum menyelenggarakan in house training, sebaiknya perusahaan melakukan serangkaian tahapan persiapan agar proses pelatihan memberikan manfaat yang efektif.
Ingat, pelatihan bukan sekadar mengumpulkan karyawan di satu ruangan untuk diceramahi. Semua harus dimulai dari kebutuhan internal, kemudian perencanaan, penganggaran, pelaksanaan hingga evaluasinya.
Berikut beberapa tahapan yang harus dilakukan sebelum menyelenggarakan in house training:
1. Training Needs Analysis
Ini adalah langkah paling krusial sebelum menetapkan pelatihan. Penyelenggara harus bisa membedakan, apakah suatu masalah harus diselesaikan dengan menggelar pelatihan atau dengan faktor lain. Berikut ahl-hal yang harus dianalisis:
- Analisis organisasi. Pelatihan harus sesuai dengan tujuan perusahaan. Misalnya, apakah selaras dengan apa yang ingin dicapai perusahaan tahun ini?
- Analisis kompetensi. Melakukan analisis kompetensi yang dibutuhkan untuk setiap posisi yang ada di perusahaan. Tetapkan kompetensi apa yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan yang ditarget.
- Analsis individu. Identifikasi skill yang dimiliki masing-masing individu. Tentukan siapa saja yang memerlukan upgrade kompetensi.
2. Menetapkan Tujuan (Learning Objectives)
Menetapkan tujuan dari suatu pelatihan tidak boleh normatif, tetapi harus spesifik, terukur, tidak mustahil untuk dicapai, dan relevan dengan kompetensinya.
Misalnya, “Setiap customer service harus mendapatkan kepuasan pelanggan di atas 90%”. Maka materi pelatihan harus fokus pada kemampuan hospitality dan problem solving bagi tim layanan pelanggan.
3. Desain Program Pelatihan
Setelah jelas tujuannya, langkah selanjutnya merancang program dan materi pelatihan. Materi yang diberikan tidak boleh terlalu melebar, harus fokus pada tujuan yang akan dicapai.
Selain materi, pertimbangkan juga metodologi pelatihannya. Pilih metode yang paling sesuai dengan profil peserta. Apakah cukup ceramah saja, menggunakan metode game dan simulasi, atau harus praktek langsung. Begitu pun dengan penyampaiannya, harus dalam kelas tatap muka atau cukup dengan kelas online saja.
4. Menyeleksi Trainer
Trainer mengambil peran yang besar dalam menyukseskan suatu pelatihan. Tentukan jenis keahlian trainer, apakah membutuhkan trainer yang memiliki pemahaman teoritis seperti akademisi atau trainer yang memiliki pengalaman praktis di lapangan.
Trainer bisa diambil dari talenta yang ada dalam perusahaan atau mendatangkannya secara eksternal. Bila dirasakan perlu mendatangkan trainer eksternal, dengan senang hati kami bisa membantu!
5. Pelaksanaan Pelatihan
Hal-hal teknis dalam pelaksanaan in house training sebaiknya diselesaikan jauh-jauh hari, seperti:
- Pengaturan waktu, tempat dan logistik yang dibutuhkan selama pelatihan.
- Memastikan biaya sudah sesuai dengan anggaran yang disetujui perusahaan.
- Bila berkolaborasi dengan pihak eksternal, pastikan untuk memberitahu kebutuhan teknis pelaksanaan jauh-jauh hari.
6. Evaluasi dan Monitoring
Setelah pelatihan usai bukan berarti tanggung jawab selesai. Penyelenggara berkewajiban untuk memantau efektifitas dan perubahan di lapangan. Dalam hal ini, lakukan monitoring dan evaluasi terhadap hasil pelatihan.
Metode Evaluasi Pelatihan In House

Ada beberapa model yang sering digunakan dalam mengevaluasi tingkat keberhasilan pelatihan. Praktik terbaik yang sering dipakai saat ini antara lain Kirkpatrick Model, CIRO model, Kaufman’s Five Levels of Evaluation, dan Anderson’s Value of Learning Model.
1. Kirkpatrick Model
Metode ini paling sering digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan pelatihan. Secara umum ada 4 level evaluasi, dalam beberapa kasus sering ditambahkan level ke-5. Berikut paparannya:
- Level 1: reaksi (reaction). Tahap ini mengukur kepuasan peserta terhadap pelaksanaan pelatihan. Bisa dilihat dari kenyamanan fasilitas, kejelasan mater, hingga pembawaan instruktur.
- Level 2: pembelajaran (learning). Tahap ini mengukur penyerapan pengetahuan yang diberikan. Caranya dengan mengukur penguasaan pengetahuan keterampilan tertentu, bisa dengan melakukan pre-test dan post-test.
- Level 3: perilaku (behaviour). Mengukur sejauh mana ilmu atau keterampilan tersebut digunakan dalam pekerjaan. Caranya dengan mengamati perubahan cara kerja peserta.
- Level 4: hasil (result). Tahap ini mengukur dampak pelatihan terhadap kinerja organisasi secara keseluruhan. Caranya dengan melihat KPI organisasi atau departemen, apakah ada pengingkatan atau tidak.
Biasanya para praktisi HR menambahkannya dengan perhitungan Return On Invesment (ROI) pelatihan. Tujuannya untuk mengetahui seberapa besar keuntungan yang didapat perusahaan dari biaya pelatihan yang dikeluarkan.
2. CIRO Model (Context, Input, Reaction, Outcome)
Model yang dikembangkan oleh oleh Warr, Bird, dan Rackham tahun 1970. Model ini menitik beratkan pada kondisi sebelum pelatihan.
- Context: pelatihan dibuat untuk menjawab maslaah kinerja organisasi. Kemudian dirumuskan kebutuhan pelatihan yang tepat yang sesuai dengan tujuan organisasi.
- Input: mengevaluasi sumber daya yang tersedia. Misalnya, apakah anggarannya cukup? Apakah instruktur dan metode yang dipilih sudah yang terbaik?
- Reaction: mengukur pendapat peserta tentang jalannya pelatihan.
- Outcome: mengukur hasil akhir pelatihan dengan melihat perubahan pada peserta dan organisasi.
3. Kaufman’s Five Levels of Evaluation
Dikembangkan oleh Roger Kaufman, model ini mirip dengan Kirkpatrick. Namun Kaufman menambahkan level ke-5 yang mencakup dampak sosial.
- Level 1: input & process. Evaluasi sumber daya dan kualitas penyampaian.
- Level 2: acquisition. Evaluasi penguasaan peserta terhadap kompetensi baru yang dipelajarinya.
- Level 3: application. Evaluasi penerapan kompetensi baru di tempat kerja.
- Level 4: organizational output. Evaluasi dampak pada kinerja atau efisiensi perusahaan.
- Level 5: societal outcomes. Evaluasi dampak pelatihan pada masyarakat atau klien perusahaan.
4. Anderson’s Value of Learning Model
Model evaluasi ini lebih fokus pada strategi bisnis. Alih-alih mencari tahu “dampak pelatihan”, model ini lebih melihat pada keselarasan pelatihan dengan strategi organisasi yang dibagi dalam 3 tahap.
- Tahap 1: menentukan keselarasan antara program pelatihan dengan strategi organisasi.
- Tahap 2: mengevaluasi hasil pembelajaran.
- Tahap 3: menghitung nilai tambah bagi organisasi.
Mengapa Memilih Pelatihan Kami?
Saat ini kami memasarkan produk pelatihan dari 25 vendor pelatihan. Para vendor ini telah menjadi mitra kami dalam menyelenggarakan public training secara reguler.
Mereka bukan vendor pelatihan dadakan yang tanpa pengalaman. Kami telah mengenal mereka dengan baik, tentu saja kami tahu kualitasnya.
Para vendor training yang telah menjadi mitra kami, memiliki spesialisasi dan keunggulan sesuai keahliannya masing-masing. Anda tidak perlu bingung memilih vendor, biarkan kami yang bekerja!
