Industri farmasi di Indonesia menghadapi regulasi yang semakin ketat, termasuk CPOB, CDOB, farmakovigilans, dan sertifikasi halal obat. Perusahaan juga dituntut menjaga mutu produk, keamanan pasien, efisiensi rantai pasok, dan keberlanjutan bisnis.
Pengelolaan tata kelola, risiko, dan kepatuhan secara terpisah tidak lagi memadai. GRC terintegrasi membantu perusahaan mengelola risiko secara menyeluruh, meningkatkan kepatuhan, dan merespons perubahan dengan lebih efektif.
Pelatihan ini membahas penerapan OCEG GRC Capability Model v3.5 dalam industri farmasi. Peserta akan berlatih memetakan risiko, merancang kontrol sesuai CPOB/CDOB dan farmakovigilans, membangun mekanisme monitoring dan assurance, serta menyusun Integrated GRC Plan.
Tujuan Pelatihan
- Memahami peran GRC terintegrasi berbasis OCEG v3.5 dalam memperkuat ketahanan dan keberlanjutan bisnis farmasi.
- Memetakan risiko VUCA industri farmasi, termasuk regulasi, rantai pasok, biaya operasional, dan tuntutan halal/ESG.
- Menyelaraskan tujuan bisnis, risk appetite, dan kepatuhan dengan strategi ketahanan operasional.
- Merancang kontrol terintegrasi untuk menjaga mutu, rantai pasok, kepatuhan distribusi, dan keberlanjutan operasional.
- Menyusun Integrated GRC & Resilience Plan 90 hari dengan indikator monitoring, mekanisme assurance, dan rencana perbaikan berkelanjutan.